Sabtu, 21 Januari 2012

MISTERI CINTA DAN CARA MENGELOLANYA


Cinta, merupakan kata yang tidak asing dan hampir setiap waktu kita menjumpainya. Mungkin kita sendiri pernah mengalaminya atau bahkan saat ini sedang merasakan Cinta. Jika seseorang dihinggapi Cinta, maka tidur tak akan nyenyak, makan tak terasa enak, merasa gelisah sepanjang waktu, dan perasaan-perasaan aneh lainnya.yang semua hal itu dapat tawar jika kita menjumpai “objek Cinta” kita. Saat seseorang dilanda Cinta , pecinta tersebut akan melihat objek yang dicintainya sebagai sosok yang teristimewa, padahal belum tentu orang lain yang melihat objek itu akan beranggapan bahwa dia adalah istimewa, hal ini dikarenakan seorang pecinta melihatnya dengan pandangan yang berbeda yang tidak dimiliki oleh orang lainnya.
            Bagaimanakah Cinta dapat muncul, dalam bukunya yang berjudul Taman Orang Jatuh Cinta, Ibnu Qoyim Al-Jauziyah menjelaskan “Adalah rasa Cinta pada diri pecinta dan sifat-sifat yang terdapat pada diri yang dicintai sehingga melahirkan rasa cinta pada orang yang mencintainya. Hal ini merupakan bentuk perjalinan antara dua pihak, yaitu antara makhluk dengan makhluk di dalam suatu keharmonisan.” Jadi jelaslah bahwa rasa Cinta yang muncul dan bersemi pada diri seorang pecinta karena dia tertarik terhadap suatu hal dalam diri orang yang dicintai.
         Cinta beragam dan bertingkat-tingkat, di dalam buku yang sama, dijelaskan bahwa; Cinta yang paling utama adalah cinta seseorang karena Allah SWT. baik cinta karena kesamaan mencari pekerjaan, kesesuaian asal madzab, karena ilmu yang dimiliki, kekerabatan, karena persahabatan, cinta karena sama-sama suka berbuat kebajikan, cinta karena melihat kedudukan yang dicintai, cinta karena masing-masing mempunyai rahasia yang dipendam, karena untuk mendapatkan kenikmatan, bahkan cinta yang tidak dilandasi suatu alasan yang pasti dan lain sebagainya. Yang pasti, semua jenis cinta tersebut akan sirna bersama dengan hilangnya penyebab, dan akan bertambah seiring dengan bertambahnya penyebab rasa cinta itu muncul.
            Yang menjadi permasalahan terkait rasa “Cinta” adalah, cara mengelolanya. Rasa cinta dapat membawa seseorang menuju kepada kemuliaan atau bahkan dapat menjerumuskannya kepada kehinaan. Rasa Cinta jika dikelola secara benar, diarahkan kepada hal yang pada tempatnya akan menuntun seorang pecinta kepada kemuliaan dan kebahagiaan hidup. Akan tetapi jika Cinta tdak dikelola secara benar, maka akan menuntun pecinta kepada kebinasaan. Banyak fenomena yang disajikan di media masa yang dapat menjadi bahan pelajaran bagi kita, sering kita melihat kasus perkosaan, hamil di luar nikah, bunuh diri karena ditinggal kekasih, dibuangnya bayi yang dilakukan oleh orang tua kandungnya sendiri, dan berbagai kasus mengerikan lainnya yang diakibatkan karena tidak dapat mengelola rasa Cinta secara benar.
Lalu bagaimanakah cara mengelola rasa Cinta secara benar sehingga menuntun kita kepada kemuliaan dan kebahagiaan? Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Tidak ada yang lebih indah bagi pandangan orang-orang yang jatuh cinta selain menikah.” Merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim yang sudah siap dan matang untuk segera menikah. Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena dengan pernikahan akan lebih mudah untuk menahan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa tidak sanggup melaksanakannya, hendaklah ia berpuasa, karena puasa akan menjadi perisai baginya.“ (H.R. Bukhari dan Muslim).
Dengan hadits tersebut Rasulullah Saw. Memberikan tuntunan bagi kaum pemuda agar menjadikan nikah sebagai penawar yang ampuh dalam masalah ini. Apabila tidak sanggup maka dianjurkan untuk berpuasa. Karena puasa dapat memecahkan kuatnya birahi dan dapat lebih mudah untuk mengendalikannya. Birahi akan lebih bergejolak dengan banyaknya makanan yang masuk ke dalam perut. Porsi makan dan jenis makanan yang masuk akan berpengaruh pada tingkat kekuatan birahi. Dengan berpuasa, akan mempersempit ruang gerak hasrat sehingga yang bersangkutan akan mudah menahan bahkan bisa memadamkannya.
Dalam buku yang sama, Ibnu Qoyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa, Puasa yang disyariatkan dapat menyeimbangkan dorongan sex. Keseimbangannya merupakan bentuk kebaikan dari dua keburukan. Jalan tengah diantara dua jalan yang tercela, yaitu menghilangkan birahi secara total atau menuruti secara berlebihan. Keduanya keluar dari keseimbangan sedangkan sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan. Setiap bentuk perilaku yang baik adalah yang tengah-tengah dari dua hal; meremehkan atau berlebih-lebihan. Demikian halnya agama yang lurus, ia berada di tengah dua sisi jalan yang menyimpang. Demikian juga sunnah yang berdiri di antara dua jenis bid’ah. Yang jelas bahwa pertengahan adalah jalan yang terbaik.

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Bluehost